Archive | SD Islam Mafaza RSS feed for this section

INFORMASI PENDAFTARAN SISWA BARU SDI MAFAZA 2013-2014

A. PERSYARATAN PSB:

  1. Usia minimal 5 tahun 6 bulan pada bulan Juli tahun 2013 (kelahiran Januari 2008)
  2. Calon siswa sudah mampu memberikan respon yang memadai terhadap stimulus yang diberikan
  3. Calon siswa sudah mengenal huruf dan mampu membaca walaupun terbata-bata
  4. Mengisi formulir pendaftaran dan surat pernyataan orang tua/wali siswa
  5. Menyerahkan : Read More…

Manhaj dalam Menuntut Ilmu (bag.2) dari kitab “Taujihaat Manhajiyyah fit Tahshilil Ilmi” karya Prof. DR. Zaid bin Abdul Karim az Zaid – hafizhahullah –

Pasal pertama

Pengertian dan pentingnya manhaj

Penulis ash Shihhah berkata : “al Manhaj adalah langkah-langkah yang diambil oleh orang yang sedang membahas untuk menyelesaikan satu permasalahan atau lebih, yang dia terus menelitinya agar bisa sampai pada hasil yang diinginkan”.Berkata Badawy dalam mendefinisikan manhaj : “al Manhaj yang dikenal dalam istilah adalah jalan yang mengantarkan kepada penyingkapan sebuah hakikat dengan perantara sejumlah kaidah-kaidah umum yang mengontrol penggunaan akal dan membatasi ruang lingkup tugasnya sampai kepada suatu hasil yang dapat diketahui” (Manahijul Bahtsil ‘Ilmi, Abdur Rahman Badawy, hal 5)Dan berdasarkan makna umum dari dua pengertian di atas, maka kita bisa mendefiniskan al Manhaj dalam pembahasan ini : bahwa Manhaj adalah batasan-batasan ilmiyah yang telah ditetapkan, yang wajib dipegangi oleh penuntut ilmu syar’i untuk mendapatkan ilmu (yang benar), agar tetap kokoh dalam menunaikan tugasnya berdasarkan cahaya dan petunjuk.Pentingnya Manhaj

Syarat tegaknya dan berkembangnya ilmu adalah bersandarnya seorang yang membahas suatu permasalahan terhadap metode ilmiyah yang memungkinkan baginya dengan metode tersebut mendudukkan bagian-bagian pada suatu permasalahan yang sedang mencuat, agar ia dapat mencari solusi ilmiyah yang terarah, agar semakin jelas keterkaitan yang ada diantaranya, dan semakin nampak dari kaidah-kaidah yang ia kumpulkan.

Dengan pemahaman ini, maka sesungguhnya manhaj berfungsi menjaga suatu metode atau sistem dan perkembangannya, dan menetapkan penggunaan akal manusia dengan kaidah-kaidah yang kokoh yang membantunya sampai kepada suatu hakikat dengan selamat

Dengan begitu, semakin jelaslah betapa pentingnya manhaj bagi para penuntut ilmu dalam menuntut ilmu, karena tanpanya dia takkan bisa mengumpulkan ilmu dan takkan sampai kepada ilmu yang hakiki, meskipun ia banyak membaca dan berusaha untuk mengumpulkannya.

Dan tidak cukup bagi seseorang hanya memiliki akal yang sehat, akan tetapi ia juga mesti tahu bagaimana cara menggunakannya dengan benar. Dan penggunaan akal tersebut bertingkat-tingkat tergantung kelurusan manhaj yang ditempuh.

Banyak sekali nash-nash (Alquran dan Sunnah) yang menunjukkan pentingnya manhaj, diantaranya :

1- Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang – orang yang Engkau berikan kenikmatan atas mereka bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat” (Qs. Al Fatihah : 6-7)

Itulah jalan lurus yang berada diantara dua jalan yang bengkok, dan seorang muslim menitinya penuh kewaspadaan diantara dua jalan yang bengkok tersebut, menggabungkan antara doa dan mengambil sebab, agar ia bisa terus bejalan di atas jalan yang lurus ini. Dan bisa jadi dibacanya ayat ini berulang-ulang pada setiap rakaat shalat, mengisyaratkan urgensinya jalan ini, agar jalan tersebut senantiasa tetap hadir dalam pikiran. Dan setiap muslim tidak boleh lalai dari jalan ini di setiap waktu dalam detik-detik kehidupannya.

2- Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma berkata: ketika kami duduk-duduk di sisi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Nabi menggaris sebuah garis seperti ini di hadapannya, lalu berkata: “Ini jalan Allah azza wa jalla”, dan menggaris dua garis di sebelah kanan garis tersebut dan dua garis di sebelah kirinya, kemudian meletakkan tangannya di garis yang tengah lalu membaca ayat ini:

وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون

“Bahwasanya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang menyimpang, maka kalian akan berpecah belah dari jalannya yang lurus, demikianlah Kami wasiyatkan kalian dengannya agar kalia bertakwa” (QS. Al An’am : 153). HR. Ahmad dalam musnadnya 1/465

3- Allah ta’ala telah menenetapkan untuk kita tujuan dari penciptaan kita, Allah berfirman :

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan Manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz Dzariyaat : 56).

Dan termasuk hal yang paling esensi untuk merealisasikan tujuan adalah keberadaan manhaj, yaitu tali yang menghubungkan kita dengan tujuan, yang seandainya bukan karena manhaj, pasti hubungan tersebut akan terputus, kita akan tersesat, dan akan terputus jalan-jalan yang akan menghantarkan kita kepada tujuan. Dan Rasulullah telah menerangkan tentang keberadaan manhaj ini dengan perkataannya:

ما أنا عليه وأصحابي

“Apa yang aku berada diatasnya dan para sahabatku”.
Karena manhaj adalah bagian dari tujuan yang tidak mungkin dicapai kecuali dengannya

4- Yang dimaksud dengan ketidakadaan manhaj, adalah ketergeliciran dalam penyimpangan baik sedikit ataupun banyak, dan itu merupakan usaha yang berbahaya, dan sejarah islam telah menjadi saksi bahwa banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang telah memporak-porandakan umat islam adalah berawal dari menyepelekan hal-hal yang sederhana di dalam manhaj, sehingga penyakit itu menjalar kepada sekolompok orang, yang pada akhirnya merekapun menyimpang dari jalan yang lurus, sungguh benar firman Allah ta’ala kepada mereka diantaranya :

فلما زاغوا أزاغ الله قلوبهم

“Maka ketika mereka menyimpang, Allah sesatkan hati-hati mereka”. (QS. Ash Shaff: 5)

Itulah penyimpangan pada akhirannya, penyimpangan paling besar – wal’iyadzu billah – dan juga penyimpangan pada permulaannya, berkata syaikh as Sa’di rahimahullah : فلما زاغوا yaitu mereka menyimpang dari kebenaran pada maksud dan tujuan mereka, أزاغ الله قلوبهم sebagai balasan bagi mereka atas penyimpangan mereka.

Dan sabda Rasulullah dalam hadits Mu’awiyah radhiyallahu anhu :

أنه سيخرج من أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله

“Akan keluar sekelompok dari umatku yang hawa nafsu menjalar pada diri mereka, seperti penyakit rabies yang menjalar pada tubuh penderitanya, tidak tersisa darinya urat maupun sendi melainkan dia akan merasukinya”. (HR. Ahmad dalam musnadnya jil. 4, hal. 102.)

5- Para salaf terdahulu radhiyallahu anhu mereka pun telah menekankan pentingnya berpegang teguh dengan manhaj, diantara perkataan mereka :

a. Ubay bin Ka’ab dan Abdullah bin Mas’ud rdhiyallahu anhuma berkata :

عليكم بالسبيل والسنة

“Wajib atas kalian berjalan diatas jalan yang lurus dan sunnah” (Majmu’ fatawa, Ibnu Taimiyah jilid 10, hal. 77 dan jilid 11, hal 600)

b. Ibnu Mas’ud berkata : “Wajib atas kalian berjalan di atas jalan yang lurus, dan tetaplah berada di atasnya, jika kalian melakukannya maka sungguh kalian telah jauh berada di depan, dan jika kalian mengambil jalan yang menyimpang ke kiri dan ke kanan, maka sungguh kalian akan tesesat dangan kesesatan yang sangat jauh”. Kitab az Zuhud, karya asy Syaibani, jilid 2, hal. 258, dan Hilyatul Auliya’, karya al jilid 3, hal 281)

c. Hudzaifah bin Yaman berkata radhiyallahu anhu : “Wahai orang-orang yang ahli dalam membaca al qur’an, istiqomahlah kalian, maka sungguh kalian telah jauh berada di yang terdepan, dan jika kalian mengambil jalan yang menyimpang ke kiri dan ke kanan, maka sungguh kalian akan tesesat dangan kesesatan yang sangat jauh.”